Analisis Struktural.
- . Unsur Intrinsik
- Tema : percintaan
Cerpen di atas menceritakan tentang cinta segitiga
antara Zulbahri, Wartini dan Syamsu. Zulbahri dan Wartini merupakan pasangan
suami isteri. Namun, ketika hadir Syamsu diantara keduanya, rumah tangga mereka
menjadi cerai-berai. Sebelumnya, Zulbahri sudah merasa khawatir akan kedatangan
Syamsu (adik Zulbahri) di rumahnya. Zulbahri khawatir jika benih-benih cinta
diantara mereka tumbuh kembali. Dengan penjelasan Wartini yang penuh keyakinan
menjelaskan kepada Zulbahri bahwa ia hanya mencintai Zulbahri, sedangkan Syamsu
hanyalah cinta monyetnya ketika masih kecil.
Berdasarkan kutipan sinopsis di atas, dapat
memperjelas tema yang diambil yaitu percintaan yang sesuai untuk cerpen
tersebut.
- Alur
Alur yang digunakan pada cerpen di atas adalah
maju-mundur.
- Alur maju dapat diketahui dari awal cerita yang mempertemukan antara Zulbahri dengan ayah dan ibu hingga Zulbahri menyadari kesalahan yang telah dilakukannya, lalu menatap masa depannya untuk menjadi manusia yang lebih baik, lebih berguna bagi nusa dan bangsanya.
- Alur mundur dapat diketahui ketika Zulbahri menceritakan kisahnya (antara Zulbahri, Wartini dan Syamsu) secara runtut kepada ayah dan ibu.
- Setting
- Waktu:
- Siang hari
Kutipannya:
“Aneh betul. Kami sedang duduk-duduk pula di beranda
depan. Hari panas alang kepalang. Adik Usup mempermain-mainkan ujung kebaya
ibu, sampai kebaya itu robek dibuatnya. Hampir-hampir ia menangis dimarahi
ibu.”
- Sore hari
Kutipannya:
“Matahari sudah mulai condong ke Barat. Sebentar lagi
ia akan hilang dari pandangan mata. Lampu di beranda depan sudah dipasang ibu.
Zulbahri terus juga bercerita. Kami mendengar dengan sepenuh-penuh perhatian.”
- Malam hari
Kutipannya:
“Malam bulan purnama raya. Kami duduk di beranda
depan. Ayah dan ibu bercakap sebentar-sebantar.”
“Matahari sudah lama terbenam. Bulan purnama mulai
naik perlahan-lahan, memancarkan sinarnya, melalui daun-daun jarak di
pekarangan, menerangi pekarangan itu.”
“Kami terharu dan kasihan mendengarkan cerita Zulbahri
itu. Ia menengadah ke langit bertaburan bintang itu. Air matanya
tergenang.”
- Tempat
- Beranda rumah
Kutipannya:
“Sudah itu, ia seperti orang berpikir dan tak lama
kemudian, ia masuk ke dalam pekarangan kami. Ia memberi hormat kepada ayah dan
ibu, lalu duduk di sebelah kursi dekat meja bundar di tengah beranda itu.”
- Jalan
Kutipannya:
“Tiba-tiba ia tertawa gelak-gelak, sambil menunjuk ke
tengah jalan. Kami menoleh dan tampaklah kepada kami seorang laki-laki, sedang
asyik membaca buku, sambil berjalan juga. Pakaian orang itulah yang menerbitkan
tertawa adik Usup.”
- Suasana : sedih, pilu.
Kutipannya:
“Di sini Zulbahri berhenti sebentar. Tak seorang juga
dari pada kami, yang berani menyela cerita Zulbahri. Dikeluarkannya sapu
tangannya, dihapusnya air matanya yang mengenai pipinya. Kedengarannya susah ia
hendak meneruskan perkataannya.”
“Kami terharu dan kasihan mendengarkan cerita Zulbahri
itu. Ia menengadah ke langit bertaburan bintang itu. Air matanya tergenang.”
- Penokohan
- Zulbahri (tokoh utama), berwatak:
- Suka membaca buku, berpenampilan tidak rapi (semaunya)
“Kami menoleh dan tampaklah kepada kami seorang
laki-laki, sedang asyik membaca buku, sambil berjalan juga. Pakaian orang
itulah yang menerbitkan tertawa adik Usup. Baju jasnya sudah robek-robek, di
bagian belakang tinggal hanya benang-benang saja lagi, terkulai seperti ekor
kuda.”
- Mudah mengakui kesalahannya
“Perlu pula kuterangkan, bahwa selama aku kawin dengan
Wartini, sekali-sekali ada timbul perasaan kepadaku, bahwa perbuatanku kepada
Syamsu salah adanya. Syamsulah yang sebenarnya berhak mendapat Wartini.
Anehnya, sungguhpun Wartini menerangkan, bahwa ia hanya menyintai aku sendiri,
tapi hatiku terus berkata, bahwa Wartini lebih dekat kepada Syamsu. Aku merasa
diriku sebagai seorang perampok.”
- Khawatir akan kehilangan Wartini.
“Aku menerima surat dari Syamsu, adikku, dari
Shonanto. Dua hari dua malam suratnya itu kusimpan dalam sakuku, kubawa ke
mana-mana. Surat yang menjadikan pikiranku kacau balau, pekerjaanku
terbengkelai.”
- Ikhlas atas peristiwa yang telah menimpanya dan menatap masa depan yang lebih baik untuk mengabdikan diri kepada nusa dan bangsanya (cinta tanah air).
“Lekas ayah menggelengkan kepalanya, dan tegas
katanya, “Tidak, Lastri. Bacalah sendiri suratnya ini. Semua terasa keluar dari
hati yang tulus ikhlas hendak berkurban untuk nusa dan bangsa. Bacalah pada
penghabisan suratnya: ini adalah sebagai pembayar utangku kepada tanah air yang
sudah sekian lama kulupakan karena mengingat kepentingan diri sendiri.”
- Wartini (tokoh bulat/kompleks), berwatak:
·
Sosok Wartini terklasifikasi tipe wanita yag memiliki hubungan dengan pria
dengan maksud untuk menarik eros atau cintanya. Wanita tipe ini berbahaya
karena tidak pernah mengadakan hubungan yang kekal. Dia dengan mudah berpindah
dari pria yang satu ke pria lain. Kepiawaiannya bermain piano ia salah gunakan
untuk membuat orang lain jatuh cinta.
Kutipannya:
- Takutmu berlebih-lebihan, Zul. Aku cinta kepadamu. Syamsu hanya teman mainku di waktu kecil. Cinta demikian tak masuk ke dalam hati. Cinta monyet, kata orang.
- “Syam, dapatkah seorang perempuan mencintai dua orang laki-laki sekali?”
- Syamsu (adik Zulbahri), berwatak:
- Mudah terpikat dengan wanita
Ketika Syamsu melihat kepiawaianWartini memainkan
piano dengan indahnya, ia mulai jatuh cinta kepada Wartini. Hal ini terlihat
ketika Syamsu muncul di kehidupan Wartini, Wartini mulai bermain piano kembali.
“Mereka, Wartini dan Syamsu sering bermain music
bersama. Wartini bermain piano dan Syamsu bermain biola. Sejak datang
Syamsulah, Wartini mulai bermain piano kembali. Sekali, malam-malam, Wartini
dan Syamsu memainkan lagu Ave Maria, karangan Gounod. Aku waktu itu sedang
sakit kepala sedikit dan tidur saja dalam kamar.”
- Sudut Pandang
Sudut pandang yang digunakan cerpen di atas adalah sudut
pandang orang pertama jamak karena pada awal cerita menggunakan kata “kami”.
Seperti kutipan pada bait pertama cerpen di atas
berikut:
Malam bulan purnama raya. Kami duduk di beranda depan.
Ayah dan ibu bercakap sebentar-sebantar. Tapi percakapn itu sudah lancar
rupanya. Keindahan alam yang demikian, mengenangkan kami pada suatu kejadian.
Perpisahan dengan Zulbahri. Zulbahri yang dengan secara aneh berkenalan dengan
kami. Bagaimana lekatnya hati kami kepada Zulbahri ternyata, waktu ibu berkata,
“Kasihan Zulbahri. Entah di mana dia sekarang. Serasa anak sendiri.”
- Gaya Bahasa
Cerpen di atas menggunakan gaya bahasa yang agak sulit
dipahami. Pembaca harus lebih fokus dalam mencerna maksud yang ingin
disampaiakan melalui cerpen tersebut. Seperti halnya kutipan puisi berikut ini:
“Malam bulan purnama raya. Kami duduk di beranda
depan. Ayah dan ibu bercakap sebentar-sebantar. Tapi percakapn itu sudah lancar
rupanya. Keindahan alam yang demikian, mengenangkan kami pada suatu kejadian.
Perpisahan dengan Zulbahri. Zulbahri yang dengan secara aneh berkenalan dengan
kami. Bagaimana lekatnya hati kami kepada Zulbahri ternyata, waktu ibu berkata,
“Kasihan Zulbahri. Entah di mana dia sekarang. Serasa anak sendiri.”
- Amanat
- Kita harus setia dengan teman hidup kita
- Jangan berpikiran plin-plan
- Ikhlas dalam menjalani hidup
- Jangan mudah terpikat dengan rayuan wanita
- B. Unsur Ekstrinsik
- Budaya
Abdullah Idrus (lahir di Padang, Sumatera Barat, 21
September 1921 meninggal di Padang, SumateraBarat,
18 Mei 1979 pada umur 57 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia. Ia menikah
dengan RatnaSuri pada tahun 1946. Mereka dikaruniai enam orang anak, empat
putra dan dua putri, yaitu Prof. Dr. Ir.Nirwan Idrus, Slamet Riyadi Idrus,
Rizal Idrus, Damayanti Idrus, Lanita Idrus, dan Taufik Idrus.
Perkenalan Idrus dengan dunia sastra sudah dimulainya
sejak duduk di bangku sekolah, terutama ketikadi bangku sekolah menengah. Ia
sangat rajin membaca karya-karya roman dan novel Eropa yangdijumpainya di
perpustakaan sekolah. Ia pun sudah menghasilkan cerpen pada masa itu.
- Pekerjaan
Di dalam dunia sastra, kehebatan Idrus diakui khalayak
sastra, terutama setelah karyanya Surabaya,Corat-Coret di Bawah Tanah, dan Aki
diterbitkan. Ketiga karyanya itu menjadi karya monumental.Setelah ketiga karya
itu, memang, pamor Idrus mulai menurun. Namun tidak berarti ia lantas
tidakdisebut lagi, ia masih tetap eksis dengan menulis kritik, esai, dan
hal-hal yang berkenaan dengan sastradi surat kabar, majalah, dan RRI (untuk
dibacakan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar